SDN Tapen Magetan Tak Kunjung Terima MBG, Orang Tua Siswa Terpaksa Antar Nasi ke Sekolah.

Magetan (magetannews.com) – Ratusan siswa di SDN Tapen, Kecamatan Lembeyan, Magetan, hingga kini belum menerima distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) meski pendataan telah dilakukan sejak akhir 2025.

Ironisnya, keterlambatan ini terjadi di tengah operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Pupus yang lokasinya bertetangga, sehingga memaksa orang tua siswa tetap mengantarkan makanan secara manual melalui pagar sekolah.

Keterlambatan realisasi program MBG ini berdampak langsung pada produktivitas warga. Banyak orang tua murid yang harus meninggalkan pekerjaan mereka setiap jam istirahat sekolah hanya untuk mengantarkan nasi kotak.

Para orangtua murid harus berdiri di bahu jalan, menjulurkan tangan di antara besi pagar untuk menyerahkan kotak nasi kepada anak-anak mereka.

“Waktu kami tersita habis hanya untuk urusan antar makanan. Jika MBG sudah jalan, kami tidak perlu melakukan ini setiap hari,” keluh salah satu wali murid.

Ironi ini menjadi potret buram distribusi gizi yang seolah “melompati” SDN Tapen, meski pendataan administratif telah dilakukan berkali-kali sejak akhir tahun lalu.

Kepala SDN Tapen, Suwarto, mengonfirmasi adanya kebuntuan informasi terkait distribusi ini. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah telah proaktif menyetorkan data siswa sejak akhir tahun 2025.

“Kami sudah berkali-kali didata, tapi sampai detik ini hasilnya nihil. Kami sangat heran kenapa sekolah kami belum tersentuh sama sekali, padahal SPPG di Desa Pupus sudah operasional. Ada rantai distribusi yang tidak tersambung di sini,” tegas Suwarto.

Keresahan di tingkat bawah ini akhirnya mendapat atensi dari pemerintah daerah. Sekretaris Daerah (Sekda) Magetan, Welly Kristanto, dalam pernyataannya mengakui adanya dinamika teknis dalam fase transisi ini. Welly menyatakan bahwa pemerintah sedang berupaya melakukan sinkronisasi data agar jangkauan SPP.

“Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait agar distribusi ini segera merata. Ada tahapan verifikasi yang harus dilalui, dan kami meminta masyarakat untuk sedikit bersabar sementara sistem di SPPG baru terus kami optimalkan,” ujar Welly Kristanto.

Mandeknya MBG di SDN Tapen memicu pertanyaan mengenai efektivitas pemetaan distribusi gizi di wilayah Magetan.

Publik kini menagih janji pemerintah daerah untuk segera mengaktifkan jalur distribusi dari SPPG Desa Pupus ke SDN Tapen, agar para siswa tidak lagi perlu menerima hak gizi mereka melalui pagar sekolah (wr/red)